judul gambar
Memuat...
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2016

Oleh : Em. Syuhada’ *)

KEBERADAAN anak bagi orang tua adalah permata. Setiap orang pasti menginginkan memiliki anak yang cerdas dan berhasil dalam kehidupan. Kecerdasan yang dimaksud tentu bukan hanya kecerdasan intelektual semata, namun kecerdasan yang menyangkut seluruh aspek kemanusiaan. Tak ada ceritanya, ada orang tua yang rela jika anaknya bodoh dan gagal. Sebab, anak adalah lentera yang segala harapan kehidupan terpanggul di pundaknya. Ibarat pelita, kehadirannya mampu memantulkan cahaya. Karena anaklah orang tua rela melakukan apa saja agar si anak berhasil dalam kehidupan.

Namun, untuk mendapatkan anak yang cerdas dan berhasil ternyata bukanlah perkara mudah. Ada banyak hal yang harus dilakukan ketika “amanah” itu disandarkan kepadanya. Dalam pemahaman Islam, eksistensi anak adalah fitrah. Di tangan orang tualah hitam putih kehidupan anak ditentukan. Maka sangat tidak dibenarkan jika dalam mengawal tumbuh-kembang anak, orang tua hanya memperhatikan kebutuhan fisik semata. Lebih dari itu, orang tua harus memperhatikan seluruh kebutuhan anak, supaya anak bisa menjadi manusia seutuhnya yang sukses menapaki kehidupan.

Buku bertajuk Panduan Praktis Mendidik Anak Cerdas Intelektual & Emosional ini begitu apik dalam menjelaskan hal tersebut. Widian Nur Indriyani, sang penulis tak hanya memberikan kiat bagaimana mendidik anak cerdas. Namun segala permasalahan yang menyangkut anak dijelaskan secara rinci dalam buku ini. Menurutnya, bekal kecerdasan supaya anak berhasil dalam kehidupan ternyata tak bisa sepenuhnya mengandalkan pada sekolah. Sebab, cerdas secara akademik saja tak menjadi jaminan bahwa anak akan berhasil dalam kehidupan. Bill Gates, Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Thomas Alva Edison, adalah sederetan nama orang-orang besar dalam sejarah. Tapi siapa sangka bahwa mereka adalah “orang-orang bodoh” ketika masih kanak-kanak dan dianggap sangat tidak berhasil dalam dunia sekolah.

Lantas, apa sebenarnya kunci utama agar anak berhasil dalam kehidupan? Menurut Widian, ada sembilan jenis kecerdasan, atau yang lebih dikenal dengan istilah Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence). Yang harus dilakukan orang tua adalah menemukan dan melatih agar tiap-tiap kecerdasan itu berkembang secara optimal. Kecerdasan yang dimaksud meliputi Cerdas Bahasa (cerdas dalam mengolah kata), Cerdas Gambar (memiliki imajinasi tinggi), Cerdas Musik (peka terhadap suara dan irama), Cerdas Tubuh (terampil dalam mengolah tubuh dan gerak), Cerdas Matematika dan Logika (cerdas dalam sains dan berhitung), Cerdas Sosial (kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain), Cerdas Diri (menyadari kekuatan dan kelemahan diri), Cerdas Alam (peka terhadap alam sekitar), dan Cerdas Spiritual (menyadari makna eksistensi diri dalam hubungannya dengan pencipta alam semesta). Memang sangat jarang ada manusia yang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang. Namun kenyataannya, manusia bisa benar-benar sukses jika ia memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol. (hal. 68)

Lebih jauh Widian mengemukakan, ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak, yakni faktor keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan, yang terkait satu sama lain Meskipun secara genetik seorang anak memiliki kecerdasan karena turunan orang tua, namun jika lingkungan keluarga dan sosial sama sekali tidak mendukung, maka potensi kecerdasan anak tidak akan berkembang secara optimal. Maka peran orang tua yang terpenting sesungguhnya adalah mengawal secara terus-menerus proses tumbuh-kembang anak dengan memenuhi seluruh kebutuhan pokok yang meliputi kebutuhan fisik-biologis, kebutuhan emosi-kasih sayang, dan stimulasi dini. Hal tersebut diberikan ketika anak masih berbentuk janin, dan terutama ketika anak melewati masa-masa keemasan (Golden Age).

Apa yang dipaparkan Widian dalam buku ini sungguh rinci. Segala bentuk permasalahan dituturkan tak hanya menyangkut masalah psikis, namun juga fisik-biologis. Tentang bagaimana caranya menangani anak yang sulit makan, anak yang sembelit, kolik pada bayi, mengatasi anak pemalu, menangani anak fobia sekolah dan sebagainya. Semuanya dituturkan dengan bahasa praktis sehingga mudah dipraktekkan oleh para orang tua. Namun sayang, untuk kecerdasan terakhir berupa cerdas spiritual sama sekali tak disinggung. Padahal, kecerdasan tersebut bukan hanya penting, bahkan sesuatu yang “wajib”, karena menyangkut hubungan manusia dengan pencipta alam semesta.

Terkait hal tersebut, Emha Ainun Nadjib (2001) pernah bertutur mengenai kecerdasan spiritual. Menurutnya, manusia boleh menyandang predikat budaya macam apapun dalam kehidupan, namun yang terpenting adalah bagaimana ia bisa lulus “menjadi” manusia. Kurikulum dasar pendidikan anak menurutnya ada dua macam, ialah ketakjuban dan tanggung jawab kepada Allah. Sesempat-sempatnya orang tua menumbuh-kembangkan dua potensialitas rohaniah dan intelektual tersebut. Setiap kali berkomunikasi dengan anak, diusahakan agar mengarahkannya pada dua hal itu. Anak melihat air, diajak menemukan asal muasal dan manfaat air, sehingga ia takjub kepada Allah. Anak melihat pagi hari, embun yang jatuh, cacing menembus bumi, menatap, mendengar, dan mengalami apapun saja dalam kehidupan selalu diajak mencenderungkannya pada kesadaran ketuhanan.

Pada titik yang sama, secara dini anak juga dilatih bertanggung jawab. Bahwa segala yang tersebar di alam semesta ini adalah milik-Nya semata. Yang harus dilakukan orang tua adalah membangun kesadaran pada jiwa anak, bahwa ia tak berhak menentukan apa yang harus dan tak boleh dilakukan. Satu-satunya jalan adalah mendengarkan kata si Pemilik Kehidupan. Maka tak ada kemungkinan lain bagi manusia selain harus taat kepada-Nya. Insya Allah, jika kedua hal itu telah tertanam dalam sanubari anak, kelak jika ia dewasa dan melakukan apapun saja dalam kehidupan, semata-mata sedang menjalankan kegembiraan bertanggung jawab pada pencipta-Nya. Bukan lantaran taat pada kita, atau takut pada polisi atau negara.

Terlepas dari kekurangan buku ini, kehadirannya sungguh penting, terutama bagi siapa saja yang menginginkan menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya. Dengan membaca buku ini, setidaknya kita akan mengerti bahwa menjadi orang tua ternyata bukan persoalan gampang. Tapi percayalah, dengan totalitas menjalankan amanah, kebahagiaan itu akan segera menyeruak jika kelak berkat kepengasuhan kita, anak-anak kita benar-benar menjadi permata dalam kehidupan. Semoga.***

Judul Buku : Panduan Praktis Mendidik Anak Cerdas Intelektual & Emosional
Penulis : Widian Nur Indriyani
Penerbit : Logung Pustaka, Yogjakarta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 232 halaman

*) Em. Syuhada’, Pengeja Aksara, beralamat di em.syuhada@gmail.com

Minggu, 22 November 2015

BIASANYA, sekolah selalu membanggakan diri dengan menyebut sebagai sekolah luar biasa, unggulan, bonafide, favorit, terakreditasi, bertaraf internasional, dan lainnya. Biasanya pula sekolah selalu berburu prestasi, piala, serta tunduk-taklid pada standar kurikulum, metode pembelajaran, penilaian, kualifikasi guru, dan sarana-prasarana dari pemerintah resmi.

Namun karakteristik sekolah pada umumnya tersebut justru tidak terdapat di sekolah yang satu ini. Alih-alih mengikuti standarisasi pendidikan dari pemerintah, sekolah ini justru membuat “standar” mereka sendiri. Kurikulum dari pemerintah resmi sekadar jadi bahan pembanding kurikulum yang mereka buat sendiri. Lebih dari itu anak-anak tak dianjurkan untuk berideologi kompetisi dan mengejar prestasi-prestasi semu. Bahkan pengelolanya sendiri menjuluki sekolah ini sebagai “Sekolah Biasa Saja” (2014). 

Itulah sekaligus judul buku yang ditulis oleh Toto Rahardjo dan diterbitkan oleh Progress, Yogyakarta, Desember 2014. Buku setebal 183 halaman plus cover dan halaman depan tersebut mengulas sekolah unik bernama Sanggar Anak Alam (Salam) secara tuntas. Dari soal filosofi, ideologi, hingga praksis pedagogiknya. Di sinilah tampak bahwa istilah “Sekolah Biasa Saja” yang disematkan pada Salam oleh penulis sebenarnya adalah sindiran untuk sekolah-sekolah yang sudah “tidak biasa” alias “tidak lazim” lagi sekarang ini.
Baca juga : Menyongsong Era Kecerdasan Baru: Totalitas Inteligensi
Bagi Toto sekolah adalah hal biasa yang manusiawi. Hal yang tidak biasa justru dipertunjukkan oleh sebagian besar sekolah-sekolah kita hari-hari ini. Antara lain (1) desain sekolah seperti penjara (gedung terisolasi dari masyarakat dengan pagar tinggi dan penjagaan ketat dari Satpam), (2) belajar materi yang tidak berkaitan dengan kebutuhan hidup riil anak didik dan banyak membebani, (3) pembelajaran banyak yang tidak membangun nalar kritis dan rasa ingin tahu serta keberanian anak didik, dan (4) biaya sekolah mahal.

Ironisnya selama ini semua hal tersebut dianggap lazim dan wajar. Makin lama sekolah makin berlomba-lomba membangun gedung mewah yang terpisah dari masyarakat. Alasannya untuk menjaga konsentrasi belajar dan kedisiplinan. Materi yang dipelajari namun tidak berkaitan dengan kebutuhan hidup riil anak juga tetap diberikan dengan dalih “pasti suatu saat nanti akan berguna, terutama jika studi lanjut”. Dari tahun ke tahun sekolah-sekolah justru menjadi lembaga pengkebiri imajinasi, potensi, dan otentisitas diri anak-anak.

Hal-hal itulah yang mesti dikhawatirkan, karena praksis pedagogik bisa jadi mubazir bila dasar pijakannya tidak kuat, salah arah, dan cara serta medianya tidak tepat. Salam, yang dikelola oleh Toto Rahardjo bersama Wahya (istrinya) dan warga Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, mulai tahun 2000 menggunakan dasar filosofi humanis dan kritis-transformatif.

Paling tidak terdapat empat karakter yang membedakan Salam dari sekolah lain pada umumnya, yaitu Salam (1) menggunakan filosofi pedagogik humanistik, (2) berorientasi pada anak, (3) berpendekatan holistik dalam proses pembelajaran, dan (4) menguatkan jalinan partisipatoris-demokratis antara guru, murid, dan orang tua (hal. 91-94).

Tentu bagi pembaca yang berlatar akademik sarjana pendidikan, atau minimal para peminat dan praktisi pendidikan, empat karakter tersebut bukan hal baru. Namun Salam mempraktikkannya secara sungguh-sungguh dan serius, bukan cuma sekadar teori yang dipelajari di kampus-kampus atau istilah yang tercantum dalam dokumen kurikulum dan kebijakan saja selama ini. Dan buku ini mengulas dengan baik bagaimana praktik riilnya pembelajaran humanis, kritis, demokratis, partisipatoris, dan transformatif di Salam.

Pada bab metodologi di buku ini misalnya, setelah mengulas mengenai hakikat belajar-mengajar, Toto bercerita mengenai pembelajaran di Salam yang dialogis, berbasis pada pengalaman dan realitas terdekat murid. Secara lebih rinci juga diulas bahwa proses pembelajaran di Salam merupakan rangkaian upaya agar murid mampu (1) melakukan rekonstruksi, (2) mengungkapkan, (3) menganalisis, (4) menarik simpulan, dan (5) bersikap dan melakukan tindakan atas/terhadap pengetahuan yang dipelajari (hal. 24-27). Melampaui pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 bukan?

Dengan begitu, hal yang dipelajari murid diarahkan betul untuk mengasah nalar kritisnya, dan pada akhirnya tidak berhenti menjadi pengetahuan belaka, melainkan sampai pada tindakan riil murid atas hal yang mereka pelajari. Toto pun menjelaskan bagaimana cara menyiapkan rencana proses belajar secara demokratis dan partisipatif bersama-sama. Termasuk memberikan gambaran metode pembelajaran dan kontrak belajarnya (hal. 28-37).

Gambaran dan cerita lebih detail proses pembelajaran di Salam diceritakan oleh Hasriadi Ary dan Mellanie Febrista. Misalnya bagaimana ketika Mas Yudhis (salah satu pendamping murid di Salam) menerangkan perbedaan baris dan kolom (hal. 39-41, cerita pembelajaran berbasis riset di pasar ikan Pasty dan angkringan Wongso (hal. 114-142), dan cerita wawancara Satiti dengan mbah Udan Sore (hal. 142-145).

Di situ terlihat bagaimana anak-anak diajak ke realitas langsung untuk belajar ilmu ekonomi, matematika, logika, keberanian, kepemimpinan, dan kekompakan kelompok secara tematik. Belum lagi ketika murid-murid menggelar tradisional bulanan. Sesuatu yang agaknya tidak pernah terpikirkan di sekolah-sekolah formal lain pada umumnya.

Itulah kiranya yang diharapkan dan dimaksud oleh Toto Rahardjo sebagai “Sekolah Biasa Saja”. Sekolah yang dalam teori psikologi belajar klasik mampu mengasah dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik secara tepat sesuai karakter, usia, dan kematangan mental, intelektual, sosial masing-masing. Sekolah yang “anehnya” justru tidak mengikuti aturan dan standar resmi pemerintah.

Karakter dan orientasi Salam tersebut tidak mengherankan, mengingat Toto Rahardjo dan Wahya — sebagaimana juga diceritakan di buku ini (hal. 49-53) — adalah anak didik ideologis Romo Mangun, seorang pendidik yang menggagas dan memperjuangkan pendidikan pemerdekaan untuk rakyat. Selain itu pengalaman sebagai aktivis gerakan sosial dari Toto dan Wahya dalam menjadi basis pengalaman berharga untuk sabar dan telaten mengembangkan Salam.

Bagi yang mengikuti diskursus pedagogi kritis dan/atau pendidikan kritis di Indonesia, buku ini dapat dikatakan sebagai lanjutan dari tulisan Toto Rahardjo dan kawan-kawan yang lebih bersifat teoretis sebelumnya berjudul “Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis (2010) terbitan Insist Press, Yogyakarta. Ibaratnya buku “Sekolah Biasa Saja” ini adalah wujud praksisnya. Walau secara teknis buku ini terdapat beberapa salah ketik dan kurangnya penjelasan dan kejelasan si pencerita, namun secara substansi sangat berbobot. (*)
Peresensi : Edi Subkhan
Judul buku : Sekolah Biasa Saja
Penulis : Toto Rahardjo
Penerbit : Progress, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2014
Tebal : xxii + 183 halaman

Senin, 16 November 2015


Oleh: Em. Syuhada'*)

KONON, sebab merasa dirinya paling cerdas diantara yang lain, Nabi Musa pernah ditegur Allah dan diperintahkan mencari seseorang yang memiliki kemampuan lebih tinggi. Sosok yang Tuhan menyebutnya dalam al Qur’an sebagai hamba yang diberi rahmat dan diajari ilmu dari sisi-Nya itu menurut ahli tafsir adalah Khidhir (QS. 18:65). Dengan berpatokan sebuah tempat yang bernama majma’al bahrain, Musa memulai pencariannya dengan membawa ikan yang tak lagi hidup. Cerita pun bergulir, bagaimana Musa bersikeras mendaftarkan diri menjadi murid, meski sudah dialarm tak akan sanggup. Bagaimana pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut Nabi Musa merespon apa yang dilakukan Khidhir, hingga perpisahan mereka tak terelakkan ketika untuk ketiga kalinya, Musa kembali melanggar janji untuk tidak bertanya atas perilaku Khidhir yang dianggapnya kontroversi.

Demikianlah, Khidhir dalam khasanah islam adalah simbol hikmah yang min ladunna ilma (mendapatkan ilmu dari sisi-Nya). Tiga peristiwa yang dilakukan Khidhir seyogyanya diterjemahkan tersirat, bahwa hidup manusia bukan hanya sekedar “masa kini”, tapi juga harus sanggup memandang “masa depan”, dengan tentu saja berkaca pada “masa silam”. Barangkali, dilatarbelakangi kisah itulah, istilah atau bahkan konsep tentang ilmu laduni disandarkan. Namun sayangnya, banyak orang terjerembab dalam kekeliruan pemahaman ketika mencoba mengakrabi laduni. Bahkan tak jarang, ada yang terjebak pada perilaku musykil ketika berusaha mendapatkannya.

Disinilah, buku yang ditulis Ilung S. Enha ini menemukan urgensinya. Setelah mempopulerkan Kecerdasan Laduni (LQ) melalui Laduni Quotient, Model Kecerdasan Masa Depan (2011), Ilung kembali mewedarkan buah pikirnya melalui LQ, Eleven Pillars of Intelligence. Sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya, buku setebal 270 halaman yang dipengantari oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mendaraskan secara lebih detail sebelas pilar kecerdasan terkait LQ. Pilar kecerdasan yang dimaksud bukan hanya beroperasi di ruang otak (sebagai bagian dari ruang kerja nafs), tapi menyebar di anasir kemanusiaan. 


Manusia sebagai masterpeace ciptaan Tuhan sepenuturan Ilung tersusun dari tiga unsur; ruh, nafs, dan jasad. Dari sebelas pilar kecerdasan yang diutarakan, dua diantaranya berada di wilayah ruh, sedangkan sembilan lainnya beredar di ruang nafs. Jasad hanyalah alat untuk mengaplikasikan kecerdasan-kecerdasan ke ruang realitas secara lebih konkret.Yang bermukim di ruang ruh adalah inteligensi “ruh-pusat” (ruhul-amr) dan kecerdasan “ruh-antara” (ruhul-qudus). Sedang yang berkutat di dataran nafs berada di dua tempat; IQ, EQ, dan SQ meruang di otak, dan yang bersemayam di hati adalah aql yang sering disalahpersepsi sebagai fikr, dzauq dan shadr sebagai ruang kreasi dan kesadaran inovasi, kesahajaan fuad, bashirah mata kebenaran yang tak berkabut, dan lubb sebagai pintu masuk kecerdasan ruhaniah. Menariknya, dari pilar-pilar kecerdasan yang dituturkan, Ilung tak hanya mampu merinci dan mendefinisi, tapi juga melakukan rekonstruksi dan memberikan solusi agar setiap pilar kecerdasan bisa berkembang maksimal.

Misalnya saja, ketika proses lelaku menuju kecerdasan laduni ini diupayakan, yang patut diwaspadai adalah adanya dua elemen jiwa berpotensi buruk yang bertubi-tubi menyerang, dengan memengaruhi elemen-elemen kecerdasan yang dimiliki, ialah hawa dan syahwat. Hawa berpotensi merusak sisi internal jiwa, sedangkan syahwat adalah potensi buruk yang merusak sisi eksternal jiwa. Dengan sangat gamblang dituturkan pilar kecerdasan mana sajakah yang paling ringkih, hingga yang paling kuat tak terkalahkan. Dengan demikian, antisipasi bisa segera dilakukan jika nafs benar-benar ingin selamat dari tipu daya hawa dan syahwat.

Jika dibandingkan dengan model kecerdasan yang telah dikenal sebelumnya, sangat tampak bahwa LQ yang diusung Ilung lebih komprehensif karena meletakkan manusia secara utuh. Lazim diketahui, model kecerdasan yang terlanjur dikenali adalah IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). IQ pertama kali dilontarkan oleh Alferd Binet pada awal abad 20. Setelahnya, muncul EQ yang digemakan Daniel Goleman (1995). Ketika hasil penelitian Danah Zohar (Harvard University) dan Ian Marshall (Oxford University) menemukan adanya God Spot (Titik Tuhan) pada otak manusia, lahirlah kemudian model kecerdasan baru yang dikenal dengan kecerdasan spiritual (SQ). Yang patut digarisbawahi, -baik IQ, EQ, maupun SQ, serta qoutient-quotient yang datang sesudahnya- keseluruhanya masih berkumpar di wilayah otak.

Padahal, jika melihat problematika masa depan yang demikian massif dan berjalin-kelindan dari hari kehari, sangat tidak mungkin bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan pilar kecerdasan yang berkutat di wilayah otak. Maka, dibutuhkan era baru kecerdasan, berupa totalitas inteligensi. Sebuah kecerdasan baru yang memesrahkan komunikasi antara kecerdasan otak dan inteligensi hati, disambungkan dengan Kecerdasan Ruhaniah. Ruh tak pernah keluar dari rel-Nya, sehingga setiap apapun informasi yang disampaikan adalah kebenaran sejati.

Salah-satu kelebihan buku ini adalah kepiawaian penulis mengemas tiap bahasan dengan bahasanya yang, -meminjam bahasanya pak Muhammad Nuh- “renyah” dan gemulai. Meski kajian yang disuguhkan sesungguhnya tergolong ‘berat’ karena masuk dalam lingkaran tasawuf, di tangan Ilung dihidangkan dengan santai dan ‘membumi’. Tak pelak, wacana tentang laduni yang sebelumnya melangit, rumit dan berbelit-belit, akan segera sirna setelah membaca buku ini.

Sepiring kue ikhtitam disuguhkan, mungkinkah ada semodel generasi yang sanggup menapaki keseluruhan langkah untuk meraih totalitas inteligensi? Tidak ada yang tidak mungkin, kata Ilung. Yang paling harus dilakukan adalah menumbuhkan keyakinan bahwa keMahaluasan-Nya tak sesempit rongga otak. Bahwa keMaharahmananNya akan sanggup mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan yang sangat nyata. Hanya saja, memang dibutuhkan kesabaran berlipat-lipat untuk meniti jalan setapak demi setapak. Sebab jika tidak, sebagaimana Musa, kita akan gagal berguru kepada Khidhir.(*)

Judul Buku : LQ Eleven Pillars of Intelligence
Penulis : Ilung S. Enha
Penerbit : Kaukaba, Yogjakarta
Cetakan : Pertama, Juli 2013
Tebal : x + 270 halaman

Rubrik Buku Jawa Pos. Minggu, 16 Nopember 2013

*) Em. Syuhada’, pengeja aksara. Aktif menemani pembelajaran siswa SDN Talunrejo 3 Bluluk Lamongan

Pengunjung Blog

DAFTAR ISI

Arsip Blog

Flag Counter

Flag Counter

Pengikut

Breaking News

Artikel Populer Minggu Ini

Lomba

More on this category »

Esai

More on this category »

Resensi Buku

More on this category »